Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 22 Juni 2011

PTT PADI GOGO MELALUI PAGETEKGO DI CIANJUR SELATAN

PTT Padi Gogo 
Melalui 
PAGETEKGO ( Parade Gelar Teknologi Padi Gogo ) 
Di Cianjur Selatan
Merupakan Entry Point Mewujudkan Kemandirian Pangan Di Jawa Barat

Iskandar Ishaq dan Euis Rokayah  
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat
Jl. Kayuambon No. 80 Lembang


Swasembada Beras  kunci keberhasilan Program Ketahanan Pangan Nasional. Provinsi Jawastari merupakan salah satu perwujudan dari kemandirian pangan dan Barat selama kurun waktu delapan tahun terakhir (2001-2008) merupakan salah satu sentra produksi padi utama dengan kontribusi produksi 10,08 juta ton GKG atau 17,3 %-nya produksi padi nasional. 


Pencapaian produksi padi tersebut mampu memenuhi kebutuhan beras bagi sekitar 42,2 juta penduduk Jawa Barat dengan tingkat konsumsi beras rata-rata 105,87 kg/kapita/tahun dan mampu memenuhi kebutuhan beras bagi penduduk di luar wilayah Jawa Barat dengan nilai surplus lebih dari 1 juta ton pada tahun 2009. Kemandirian pangan sebagai kunci keberhasilan program ketahanan pangan di Jawa Barat dihadapkan pada berbagai permasalahan, disatu pihak  kebutuhan akan bahan pangan beras semakin tinggi seiring dengan laju peningkatan jumlah penduduk rata-rata sebesar 1,54% per tahun, di pihak lain terjadi pelandaian produktivitas padi pada lahan sawah, penyusutan lahan termasuk lahan pertanian produktif sekitar 13.000 ha per tahun, dampak fenomena iklim (kebanjiran, kekeringan dan serangan organisme pengganggu tanaman), rusaknya jaringan irigasi pada lahan sawah intensif sebesar 46,19%, baik tergolong rusak ringan (29,03%)  maupun rusak berat (17,16%), dan produktivitas padi gogo masih relatif rendah yaitu sekitar 2,8 t/ha.  

Dari total produksi padi yang diperoleh (produksi padi                10,08 juta ton pada tahun 2009) berdasarkan asal areal produksi, diketahui 96,5% berasal dari areal lahan sawah atau padi sawah, sedangkan produksi padi yang berasal lahan kering atau padi gogo mencakup  3,5%. Sebaliknya bila dilihat dari  luas areal pertanaman, maka luas areal lahan sawah adalah 925.900 ha atau 25,7% dengan intensitas pertanaman rata-rata 1,8 sehingga luas areal tanam dalam setahun sekitar 1,7 juta ha, sedangkan luas areal lahan kering adalah 2.681.634 ha atau 74.33%  dari seluruh lahan pertanian seluas 3.607.534 ha  di Jawa Barat. Namun demikian, dari seluruh lahan kering itu (luas 2.681.634 ha) tidak seluruhnya dapat ditanami padi gogo, sebab sebagian besar merupakan lahan kering yang telah dipergunakan sebagai perkebunan baik perkebunan rakyat maupun perkebunan negara, dan kebun campuran. Sedangkan, luas lahan kering yang dapat ditanami padi gogo dalam setiap tahunnya berkisar 109.610 ha sampai 137.454 ha dengan intensitas pertanaman satu kali dalam setahun yaitu pada musim hujan dan produktivitas rata-rata 2,85 t/ha.
 Tantangan yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan padi (beras) di wilayah Jawa Barat mengharuskan  berbagai upaya terobosan guna peningkatan produksi padi (beras) sebagai bahan pangan pokok. Salah satu upaya diantaranya adalah melalui peningkatan produktivitas padi gogo pada lahan kering  di wilayah Jawa Barat Selatan melalui Parade Gelar Teknologi Padi Gogo (PAGETEKGO), bertujuan : (1) Melakukan demonstrasi dan percontohan  berbagai teknologi padi gogo,         (2) Meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan petani dalam menerapkan teknologi unggulan budidaya padi gogo,              (3) Meningkatkan partisipasi aktif berbagai stakeholders dalam pengembangan wilayah lahan kering di Jawa arat Selatan,             (4) Membangun kemitraan dan kerjasama saling menguntungkan diantara petani, pemerintah dan stakeholders,  (5) Meningkatkan penggunaan benih bermutu varietas unggul baru padi gogo,             (6)  Meningkatkan produktivitas padi gogo 50-100% dari produktivitas sebelumnya, dan (7) Meningkatkan pendapatan dan daya beli petani lahan kering minimum Rp 3.000.000,- per hektar.
PAGETEKGO merupakan ekspose keragaan berbagai penerapan teknologi yang difasilitasi oleh Dinas Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Cianjur. Dari sebanyak 15 macam demplot yang diperagakan, maka 2 diantaranya yaitu Demplot PTT Padi Gogo dan Display Varietas Padi Gogo dilaksanakan oleh BPTP Jawa Barat, sedangkan 13 demplot lainnya dilaksanakan oleh 13 pemangku kepentingan (stakehoders) baik berasal dari perusahaan BUMN sebanyak 3 perusahaan              (PT Shang Hyang Seri, PT Pertani dan PT Petrokimia Gresik),  maupun berasal dari  perusahaan swasta sebanyak 10 perusahaan (PT Berdikari, PT Biolestari, PT Tanindo, PT Kayaku, PT Syngenta, PT Green Land Agroter, PT Sido Muncul Nutrend, PT Kujang, PT Hobson, dan PT Mitra Agro Pratama). PAGETEKGO dilaksanakan dalam satu hamparan lahan seluas 32,86 ha dengan melibatkan 32 orang petani yang tergabung di dalam Gabungan Kelompok Tani Cipakis, Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur.
 PAGETEKGO dilakukan melalui Pendekatan Partisipatif, yaitu : (1) Melibatkan peran aktif dan kontribusi berbagai pelaku pemangku kepentingan (stakeholders) baik dalam hal pembiayaan kegiatan maupun pelaksanaan percobaan lapangan sejak tahap perencanaan hingga tahap evaluasi akhir dan rencana tindak lanjut pasca kegiatan, dan (2) Dilakukan pada lahan milik petani dan petani berperan secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, penerapan teknologi, panen, penilaian kinerja teknologi  dan perumusan teknologi budidaya padi gogo spesifik lokasi. 
Waktu pelaksanaan PAGETEKGO dari bulan Oktober 2010 sampai dengan Januari 2011. Interval waktu tanam di dalam hamparan antara waktu tanam paling awal dengan paling akhir sekitar 14 hari. Lokasi dilaksanakan di Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur. Ketinggian tempat hamparan PAGETEKGO 20-40 m dpl.
Peserta PAGETEKGO, meliputi : (1) Gabungan Kelompok Tani Cipakis, Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, (2) Para petani yang berasal dari Kecamatan Sindangbarang, Naringgul, Cibinong,  Agrabinta, dan Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur, (3) Pemerintah Daerah lingkup Kecamatan Cidaun, (4) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat, (5) Pemerintah Daerah lingkup Kabupaten Cianjur  (Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur dan Badan Penyuluhan Pertanian Perkebunan Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Cianjur), (6) Pemerintah Daerah lingkup Kabupaten Sukabumi (Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Sukabumi dan Badan Penyuluhan Pertanian Perkebunan Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sukabumi), (7) PT Berdikari, (8) PT Biolestari, (9) PT Tanindo, (10) PT Kayaku, (11) PT Shang Hyang Seri, (12) PT Pertani,                      (13) PT Syngenta, (14) PT Green Land Agroter, (15) PT Sido Muncul Nutrend, (16) PT Kujang,                    (17) PT Hobson, (18) PT Mitra Agro Pratama (Biocosan), dan (19)  PT Petrokimia Gresik. 


  PAGETEKGO telah menampilkan keragaan berbagai teknologi dan merumuskan teknologi budidaya padi gogo spesifik lokasi, sebagai berikut :  
1.      Karena kondisi topografi lahan kering yang dapat ditanami padi gogo di Jawa Barat bagian selatan memiliki kemiringan lahan antara 0-15%, maka  mengharuskan penerapan teknologi konservasi lahan agar dapat mengurangi proses pencucian hara di dalam tanah melalui teknik terasering lahan  atau penerapan teknik budidaya lorong (Alley Croping) dengan penanaman tanaman pagar seperti tanaman pisang, tanaman hijauan pakan ternak (Grilicidia sp.) dan rumput pakan ternak (rumput BB, BD). Penanaman tanaman pagar antara baris satu dengan baris lainnya dapat diterapkan dengan jarak 50-100 m tergantung kondisi derajat kemiringan lahan, dimana semakin besar kemiringan lahan maka semakin dekat jarak antar tanaman pagar dan sebaliknya.
2.      Lahan kering pada wilayah Jawa Barat bagian selatan, terutama yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia pada saat tertentu (biasanya terjadi pada pertengahan bulan Desember sampai dengan awal bulan Februari) menghadapi kendala adanya pengaruh angin barat yang dapat merusak pertanaman. Oleh karena itu pada daerah-daerah tersebut disarankan menanam tanaman yang dapat berfungsi sebagai pematah angin (wind break) sekaligus berfungsi sebagai tanaman pagar dalam sistem pertanaman lorong (Alley Croping), seperti penanaman tanaman pisang atau tanaman kelapa.
 3.      Karakteristik tanah, antara lain pH tanah <6,0 atau berkisar dari asam sampai agak masam (pH tanah 4,5-5,9);  jenis tanah didominasi podsolik merah kuning (ultisols) dengan tingkat kesuburan tanah rendah; kandungan N rendah; kandungan P tersedia rendah, sedangkan P total relatif tinggi; kandungan K rendah-sedang; dan kandungan bahan organik tanah rendah.  Dengan kondisi tanah demikian, maka dibutuhkan penanganan pemupukan sebagai berikut : (a) perlu dilakukan pengapuran tanah dengan dosis sesuai dengan kondisi kemasaman tanah agar P total di dalam tanah menjadi P tersedia bagi tanaman; (b) diperlukan penambahan bahan organik berupa pupuk kandang 5-10 t/ha atau kompos 2-3 t/ha untuk meningkatkan kesuburan, retensi tanah dan meningkatkan unsur hara mikro dalam tanah; dan (c) aplikasi pemupukan anorganik secara  berimbang dengan dosis N 100-200 kg/ha, P 50-100 kg/ha dan K 50-75 kg/ha.
4.      Berdasarkan adaptasi dan display varietas unggul padi gogo, yaitu varietas Towuti, Situ Bagendit, Situ Patenggang, Batutegi dan varietas INPAGO-3, maka varietas yang  menunjukkan penampilan paling baik serta cocok dikembangkan dan disukai petani di wilayah Kecamatan Cidaun, Cianjur adalah  varietas Situ Patenggang. Hal itu didasarkan pada beberapa karakteristik penampilannya, seperti lebih toleran terhadap serangan hama (penggerek batang) dan penyakit (blas, blb/kresek)  serta pangaruh angin barat dibandingkan dengan tiga varietas lainnya; bentuk tanaman tegak; tinggi 73-105 cm; jumlah anakan produktif                  11-22 anakan; umur masak/panen relatif genjah yakni 95-110;  dan malai panjang dan berisi.
5.      Rumusan teknologi PTT Padi Gogo spesifik lokasi pada lahan kering di Cianjur Selatan-Jawa Barat, diantaranya :
1.        Penggunaan benih bermutu dan varietas unggul (Situ Patenggang, Situ Bagendit, INPAGO-3, Batutegi dan Towuti),
2.        Pemupukan anorganik secara berimbang (100 kg/ha N; 75 kg/ha P2O5; dan  50 kg/ha K2O),
3.        Penggunaan pupuk organik (2-3 t/ha) dan ZPT 1-2 liter/ha,
4.        Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara tepat waktu, dosis  dan tepat jenis pestisida,
5.        penerapan mozaik varietas atau menanam 2-3 varietas dalam satu hamparan (Situ Patenggang, Situ Bagendit dan INPAGO-3 atau Towuti), dan
6.        waktu panen disesuaikan dengan umur masak varietas yang ditanam dan segera dilakukan perontokkan (paling lama 2 hari setelah dipanen).
6.        Berdasarkan implementasi teknologi PTT padi gogo dengan berbagai kendala yang dihadapi selama pertumbuhan tanaman terutama serangan OPT dan dampak fenomena iklim, maka masih dapat diperoleh hasil panen padi gogo 4-5 t/ha gabah kering giling (GKG) atau lebih tinggi 1-3 t/ha GKG (50-150%) dibandingkan dengan varietas padi gogo yang biasa ditanam petani (varietas lokal Sagi, Dodokan dan varietas Sentani) dengan hasil panen 2-3 t/ha GKG.
7.        Penerapan PTT Padi Gogo meningkatkan pendapatan petani lahan kering di Cianjur Selatan antara          Rp 3.500.000,- sampai dengan Rp 10.500.000,- per ha (harga gabah kering giling pada saat ini di lapangan Rp 3.500,-/kg).
8.        Pengujian adaptasi atau display varietas unggul perlu terus dilakukan untuk mendapatkan varietas unggul yang dapat beradaptasi dengan baik pada wilayah  spesifik secara berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perkembangan permintaan pasar dan preferensi pengguna serta dampak fenomena lingkungan yang terjadi, selanjutnya produsen benih melakukan perbanyakan secara massal agar petani mudah memperoleh benih bermutu sesuai kebutuhannya.  Pada saat ini varietas padi gogo terbaik dan paling sesuai ditanam pada lahan kering di wilayah Jawa Barat Selatan adalah varietas Situ Patenggang, dengan demikian diharapkan para produsen benih dan/atau penangkar benih memproduksi dan mendistribusikan pada kios-kios sarana produksi secara tepat waktu dan jumlah.
9.        Pengendalian OPT diutamakan secara alami atau menggunakan pestisida organik, sedangkan penggunaan pestisida kimia yang baik berdasarkan hasil pengujian demplot PAGETEKGO menurut petani yang terbaik dan hal ini  dilakukan sebatas untuk menyelamatkan hasil panen bila kondisi serangan OPT sudah tidak dapat diatasi melalui penggunaan pestisida organik. 
10.    Penggunaan pupuk organik cair dan ZPT atau booster disarankan dapat diterapkan petani guna meningkatkan kesuburan tanaman, daya tahan tanaman terhadap serangan OPT dan meningkatkan daya tahan akibat pengaruh angin barat, peningkatan pembentukan anakan produktif, peningkatan panjang malai, peningkatan jumlah gabah dan peningkatan hasil panen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar